Dua Arah Dalam Satu Nada

*Oleh Freni Lutrun

Tulisan “Dua Arah Dalam Satu Nada” ini menceritrakan perbedaan yang begitu menonjol dari dua kelompok besar yang selalu saja bertentangan dalam banyak hal. Yang satu menyebut dirinya dari kelompok Cipay dan yang satu menyebut diri kelompok Cimis.

Kelompok Cipay ini adalah kumpulan cendekiawan muda yang awalnya mereka datang dari perkampungan pelosok-pelosok daerah. Mereka hidup susah di Ibukota Jakarta dengan satu alasan saja, yaitu mencari yang namanya Ilmu. Setiap saat karena alasan ilmu itu, mereka kemudian paling suka mencari tempat-tempat mewah agar bisa duduk bersama kaum berdasi selain mencari ilmu itu, tetapi sekaligus mereka membicarakan nasib kelompok lain. Maksudnya adalah kelompok Cimis itu.

Freni Lutrtuntuhluy

Yang menarik dari kelompok Cipay ini adalah ketika waktu mereka duduk dengan kaum berdasi, maka mereka dipaksakan untuk ikut berdasi atau paling sedikit tidak jorok dalam pandangan. Tetapi setelah mereka kembali ke markas, ternyata mereka juga bisa sama persis dengan kelompok Cimis itu. Kadang sandal sebelah yang dipakai berbeda dengan sebelahnya.

Kelompok ini menyebut dirinya sebagai pelopor dan pencetus pembaharuan sebab mereka adalah orang-orang yang tekun mencari ilmu dan solid dalam persekutuan. Ada yang unik dari kelompok ini, yaitu karena paling sering mencari ilmu, kadang-kadang mereka menguji ilmunya dalam perang argumen, sampai-sampai meja bisa dibanting dan kursi dipatahkan sedekar menguji ilmu yang mereka dapat itu apakah sudah bisa dipakai atau tidak. Uniknya lagi, setelah perang argument itu, mereka kelihatan bersahabat seperti biasa. Susah dan senang sama-sama rasanya.

Sedangkan kelompok Cimis ini adalah satu kelompok semacam kelompok Cipay itu. Mereka ini juga datang dari pelosok daerah di bagian pedalaman. Mereka kompak, susah senangpun sama-sama. Kehadiran kelompok Cimis di Jakarta juga untuk mencari yang namanya pengetahuan.  Hanya saja, yang membuat beda dengan Cipay adalah kecenderungan mereka tidak suka berbicara atau berdiskusi bersama orang-orang berdasih di tempat-tempat mewah. Kecuali bersama-sama dengan orang-orang miskin atau para pemulung.

Lima tahun kemudian, pada suatu waktu kelompok Cipay sempat melihat Kelompok Cimis ini berjalan di samping emperan jalan dekat Stasiun Palmerah dan terlihat keringat membasahi baju. Beberapa diantara Kelompok Cipay melihat dari sudut kaca kendaraan roda empat yang mereka tumpangi. Satu diantara meraka berkata “Teman, bagaimana kalau kita panggil saja mereka”, tetapi teman yang satunya mengatakan, “Ah jangan begitu. Kita ini kan akan bertemu dengan orang terhormat, bagaimana jadinya kalau nanti terlihat seperti itu kan nantinya jadi malu kita”, kata temannya yang sekarang sudah menjadi orang besar.

Kejadian yang sama juga ketika beberapa dari Kelompok Cipay ini hendak mencari restoran untuk makan siang. Disekitar Stasiun itu memang tidak ada restoran yang mahal sehingga mereka terpaksa harus keluar sedikit jauh dengan mobil dan mencari restoran. Ketika dalam perjalanan, terlihat satu orang Cimis sedang makan di Warteg persis di dekat Pasar Palmerah. Satu teman Cipay berkata pada teman lainnya, “Bagaimana kalau kita makan saja disitu, biar bisa bersama dengan orang itu”, tetapi teman yang satunya mengatakan, “Ah Jangan begitu. Kita tidak bisa duduk dengan orang-orang itu. Ko tau kan Dulu kita mencari ilmu dan sekarang waktunya kita menunjukan ilmunya kepada orang-orang bahwa yang dicari selama ini ada hasilnya. Sekarang kita beda status. Kita cari saja resoran di tempat lain”, kata temannya yang satu itu. Yang manarik adalah Kelompok Cimis ini tau dan melihat sendiri apa yang terjadi saat itu.

Kelompok Cimis ini meyadari beta kehadiran untuk satu pertarungan di Ibukota Jakarta dilatarbelakangi sebagai orang terbatas, selain itu karena status juga telah berbeda apalagi kelompok Cimis ini sering dikasihani kelompok Cipay dengan  sering memberi uang makan atau sekedar transport. Beberapa waktu mereka sempat bertemu, namun kelompok Cimis merasakan getaran rasa semacam mereka selalu melihat kehadiran Cimis dari aspek materi. Artinya, apapun kehadiran Cimis sudah dianggap seperti itu.

Suatu waktu, untuk mencari rasa keadilan atas kedua kelompok yang selalu beda ilmu dan pengetahuan ini, diadakanlah lomba tarik suara. Juri memutuskan untuk kedua kelompok ini harus bernyanyi dengan satu syair dan nada yang sama dalam hitungan waktu dan detik yang sama pula. Hanya dipisahkan kelompok yang satu berjarak sekitar 10 meter saja. Ditentukanlah lagu dengan Judul “Warna Warni Pelangi”.

Sewaktu loma itu diadakan, para penonton yang hadir saat itu didominasi dengan teman-teman dan orang berdasi tergolong para cendekiawan muda berkarir yang dulunya mereka bersama mencari ilmu. Saat itu, secara psikologi, kelompok Cimis’In ini merasa tersiksa karena dukungan kepada mereka sama sekali tidak ada. Sedangkan kelompok Cipay ini sendiri, oleh karena kebiasaan mereka formal dan berdasi, maka mereka tidak mau untuk dikalahkan. Berbagai cara dan macam-macam alat musik dipakai termasuk busana yang mewah.

Saat itu, juri masih sempat mengingatkan mereka dengan berkata, “Ingat, karena kalian ini selalu berbada pandangan karena ilmu berbeda dengan pengetahuan, maka kali ini kami ingin melihat seberapa mampu kalian bisa bernyanyi secara bersama-sama dalam hitungan yang sama, syair dan nada yang sama, hanya kalian dipisahkan berjarang 10 meter saja. Kami para Juri ingin melihat dimana sebenarnya perbedaan itu diantara kalian.

Dewan juripun mulai menghitung 1, 2, 3. Saat hitungan itu selesai, kedua kelompok ini tiba-tiba berbicara. “Pak Juri, apakah kami bisa minta waktu sejenak untuk menentukan nada sekali lagi. Dewan juri member waktu 1 menit. Kelompok Cimis membuka Hanphone Samsung dan membuka aplikasi pengaturan nada, sedangkan kelompok Cimis megeluarkan Graputala dan memukulnya di samping telinga untuk pengaturan nada.

Dewan juripun mulai menghitung ulang. 1, 2, 3. Dua kelompok ini mulai ramai bernyanyi. Kelompok Cipay menggunakan alat music yang tergolong modern, sedangkan kelompok Cimis menggunakan suling bambu. Ramai sudah kedua kelompok ini bernyanyi. Tampak masing masing selalu mempertahankan bobotnya (suara dan alat music).

Jauh sebelum lomba ini diadakan, rupa-rupanya kelompok Cimis ini karena bebiasaan mereka dengan para petani di kebun dan para pemulung, maka mereka mengetahui bahwa paling tepat lagu ini dinyanyikan dengan alat music tradisional dan busana-busana daerah.

Sekarang, tiba saatnya kelima dewan juri menentukan hasil. Terlihat diwajah ada perasaan tegang dan cemas untuk kelompok Cimis. Mereka merasakan sepertinya tidak ada keberpihakan saat itu. Namun, lima orang dewan juri ini berdiri dan mengatakan secara spontan kepada kedua kelompok ini dengan kata “Kami mengakui kalian semua, dari bobot suara luar biasa, penggunaan alat music juga baik. Hanya, silahkan kalian berfikir sendiri siapa yang lebih dominan menggunakan seni dan siapa yang tidak. Kami menilai ada kelompok yang belum tuntas mengandalkan seni dalam komunikasi syair, padahal kalian sendiri mencari ilmu betapa “seni berkomunikasi adalah bahasa kepemimpinan”.

Cerita dalam tulisan ini hanya untuk mengingatkan para calon pemimpin muda agar mengetahui bahwa selain kita telah memiliki ilmu, pengetahuan dan seni dalam berkomunikasi juga menjadi hal utama. Sebab itu, dalam kompetisi ini, tidak heran jika kemampuan Cimis menerapkan seni (busana  dan alat musik) mampu menyatuh dalam alunan syair dan nada lagu klasik kaum marginal. Selain itu mereka juga menang karena tidak menerapkan kebiasaan hidup mewah dan mampu bergaul dengan tidak membedakan orang lain.

[ Persembahkan tulisan ini untuk Ulang Tahun ke 35 – 17 September 1982/2017 dan 14 Tahun di Dunia Jurnalis ]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *