Mengapa Kalwedo Jadi Bingkai Pemersatu Orang MBD?

Oleh. Freni Lutrun

Tepat pada pukul 1:00 hari senin tanggal 4 september, saya terinspirasi untuk menulis satu cerita Maluku Barat Daya dalam bingkai Kalwedo. Salah satu simbolik adat orang MBD yang menjadi alat pemersatu dari ujung pulau Wetar sampai pulau Marsela.

Sebagai salah satu Putera daerah yang lahir di Desa Sera Pulau Lakor pada 35 tahun yang lalu, pikiran untuk menuliskan arti Kalwedo dalam semangat dan hubungan orang saudara di Maluku Barat Daya kira-kira tulisan yang sama telah empat kali dipublikasikan, setelah salah satu penulis MBD, Alm. Yesayas Petrus mengingatkan saya tentang hal ini.

Freni Lutruntuhluy

Memang menarik untuk dibahas arti Kalwedo ini yang sesungguhnya, dan bagaimana hubungan antara sesama orang MBD itu terjadi. Tentunya, tidak saja dalam bingkai adat istiadat dan budaya, melainkan lebih dari itu adalah mengapa pemerintah daerah menggunakan symbol ini sebagai sarana komunikasi? Dan bagaimana implementasi Kalwedo itu sendiri dalam ilmu pemerintahan.

Ada dua aspek yang akan saya bicarakan dalam tulisan ini. Pertama adalah Kalwedo dalam hubungan adat istiadat orang MBD dan kedua adalah Kalwedo dalam hubungannya dengan praktek pemerintahan yang sesungguhnya.

Pertama; Kalwedo, salah satu kata dan kebiasaan tutur adat orang Maluku Barat Daya, yang jika diartikan secara garis besar sebagai bentuk kata ucapan terima kasih, atau sejenis itu. Banyak arti yang bisa ditarik dari Makna Kalwedo itu sendiri, dan tergantung di pulau mana dan kebiasaan seperti apa yang dipraktekan dalam adat dan budaya setempat. Sampai saat ini memang belum ada satu penelitian ilmiah yang menceritrakan khusus tentang hal ini. Hanya saja, Kalwedo itu sendiri sebetulnya tidak bisa diterapkan di seluruh pelosok pulau-pulau Maluku Barat Daya. Mengapa, karena beberapa pulau misalkan Kisar dan Wetar keterkaitan adat dan historitas wilayahnya hampir seluruhnya masuk di daratan pulau Timor. Sedangkan sebagian Babar Timur dan Marsela erat kaitannya dengan kebudayaan Tanimbar. (meskipun sebagian kecil bercampuran dengan Babar Barat, Mndona Hyera dan Lemola karena perkawinan dan lainnya).

Hal ini dapat dilihat secara jelas, dengan melihat kebiasaan tutur Kalwedo itu diucapkan. Di Kisar dan Wetar, sebagian besar masyarakat dalam kebiasaan adat misalkan jika sopi sebagai sarana komunikasi dituangkan dan diberikan kepada seseorang, ucapan kata kalwedo itu tidak disampaikan, kecuali hanya mengucapkan kata terima kasih. Sedangkan kalau Babar Timur dan beberapa rumpun lainnya juga demikian, hanya saya belum mengetahui seperti apa tutur disana. Disitu telaknya sehingga mengapa tutur adat di Lemola Mndonahyera selalu menggunakan ucapan kalwedo itu, sama seperti kesamaan dalam bahasa daerahnya.

Kita bisa mengecek itu dalam cerita dan sejarah misalkan di Pulau Kisar dan Wetar. Di kisar sendiri, ada dua rumpun besar satunya masuk dalam rumpun Oirata (saya belum mengetahui bahasa adatnya) dan satunya Meher. Ini terlihat jelas dengan penggunaan “bahasa tanah” antara dua rumpun tersebut. Cerita ini tentunya belum dikaitkan dengan bagaimana kepulauan terselatan waktu sebelum tahun 1924 itu masih berada dalam residen Timor.

Keduanya; Terlepas dari sedikit perbedaan itu, tetapi yang paling penting untuk diketahui adalah mengapa pemerintah begitu mudah menggunakan symbol ini sebagai alat pemersatu diantara pulau-pulau yang memiliki dasar sejarah yang belum tentu sama. Apakah hanya alasan sebagai alat pemersatu, ataukah ada hal lain yang masih tersembunyi. Secerita ini mirip dengan waktu itu MBD masih bersama-sama dengan MTB dan menggunakan symbol Kalwedo-Kidabela. Kalwedo itu secara politis dikaitkan dengan orang Maluku Barat Daya sedangkan Kidabela dikaitkan dengan orang Tanimbar/Selaru/Fordata dll. Pada akhirnya Kidabela melepaskan kalwedo mungkin karena alasan hitoritas itu.

Kalau dikait-kaitkan dengan cerita dan perbedaan seperti itu, sejujurnya saya ingin tanyakan kepada Publik Maluku Barat Daya lebih khusus pemerintah daerah bahwa mengapa Kepulauan terselatan begitu kuat secara politik ingin memisahkan diri dengan MBD? Dan mengapa wacana pemekaran Kepulauan Babar itu ikut dalam perjuangan yang sama? Pertanyaan seperti inilah tentu memiliki alasan dan penuh makna, dan bukan tidak mungkin apa yang saya jelaskan dalam perbedaan tadi itu menjadi spirit dasarnya.

Saya telah sampai pada satu titik kesimpulan sementara bahwa pemerintah daerah sebenarnya gagal menjalankan “roh kalwedo” itu dalam berbagai dimensi dan perbedaan yang ada Maluku Barat Daya. Kegagalan yang dimaksudkan adalah roh dan jiwa Kalwedo itu mestinya masuk dalam ranah kebijakan pemerintah sekaligus sebagai sarana penyempurnaan kebutuhan pembangunan yang merata.

Kira-kira saya bisa melihatnya seperti begini. Kalau Indonesia, melihat Pancasila sebagai Ideologi, maka Kalwedo adalah salah satu symbol nasionalisme di daerah yang harusnya di ejawantahkan dalam kebijakan pembangunan tanpa melupakan semangat dan kebijakan pemerintah pusat yang berdasar pada Pancasila itu. Artinya, bagaimanapun juga, upaya menyatuhkan rakyat MBD dalam perbedaan suku, agama, ras, golongan dan lain sebagainya menjadi prioritas. Perbedaan yang menonjol ini seperti yang saya dijelaskan itu. Maksudnya adalah, apapun pentingnya, sisi adat dan budaya Maluku Barat Daya menjadi satu program primadona dalam pembangunan perbedaan itu. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin rasa memiliki terhadap daerah ini menjadi luntur akibat gagalnya pemerintah menerapkan “roh dan jiwa kalwedo” itu agar terpatri dalam diri setiap generasi.

Tulisan ini dibuat hanya sebagai bentuk tanggungjawab anak daerah dalam memberi saran dalam proses pembangunan yang sementara ini dilakukan. Kiranya tulisan ini juga kedepan mendapat masukan yang lebih baik untuk penyempuranaan seadanya.

[redaksi/editorial]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *